Pages

Ads 468x60px

About

Blogger news

Blogroll

Blogger news

12/10/2012

Tiroiditis




Download versi lengkap disini

A.     PENGERTIAN
1.      Tiroiditis merupakan kelainan dari etiologi yang berbeda (Asdie, Ahmad.2000)
2.      Tiroiditis merupakan peradangan akut kelenjar tiroid, dapat dikaitkan dengan supurasi yang disebabkan oleh bakteria (seperti stafilokokus,     B-stafilokokus dan pneumokokus), atau dapat bersifat nonsupuratif dan sekunder akibat virus atau mekanisme imunologik                                       (Manning, dkk.1996)
3.      Tiroiditis merupakan inflamasi akut yang mengenai seluruh kelenjar tiroid, yang mungkin disebabkan oleh filtrasi sel neutrofil yang disusul oleh sel-sel limfosit dan histiosit; jenis radang ini  jarang ditemukan        (Quervein, Frizt de.1868-1940).
4.      Tiroiditis menahun adalah penyakit autoimun yang disertai kenaikan kadar antibodi tiroid di dalam darah ( Sjamsu Hidajat. 1997).
B.     KLASIFIKASI
  1. Tiroiditis Akut
Merupakan penyakit yang dikarenakan infeksi bakteri tertentu dan sebagai akibat radang mulut, tonsil, atau lymphonodi cervicales.

  1. Tiroiditis Subakut
Merupakan kelainan inflamasi akut kelenjar tiroid yang kemungkinan besar disebabkan  infeksi virus.
  1. Tiroiditis Kronik
Merupakan penyebab utama goiter pada anak-anak dan dewasa muda dan kemungkinan penyebab utama “miksedema idiopatik” yang merupakan stadium akhir tiroiditis hashimoto dengan destruksi total kelenjar.

C.     ETIOLOGI
-        Infiltrasi (perusakan) limfosit dan sel-sel plasma.
-        Gangguan autoimunitas.
-        Gangguan produksi T3 & T4 serum.
-        Gangguan TSH
-        Infeksi virus (campak, koksakie, dan adenovirus)
-        Infeksi bakteri (stafilokokuis, pneumokokus)
-        Defisiensi yodium.

D.     PATOFISIOLOGI TIROIDITIS
1.      TIROIDITIS SUBAKUT
Pada fase awal, kadar T4 serum meningkat dan penderita mungkin mempunyai gejala tirotoksikosis, tetapi ambilan yodium radioaktif jelas tersupresi.. T3 dan T4 meningkat, sementara TSH serum dan ambilan iodine radioaktif tiroid sangat rendah. Laju endap darah sangat meningkat, kadang-kadang sampai setinggi 100 mm/jam pada skala Westergen. Autoantibodi tiroid biasanya tidak ditemukan di serum. Bersamaan dengan perjalanan penyakit, T3 dan T4 akan menurun. TSH akan naik dan didapatkan gejala-gejala hipotiroidisme. Lebih lanjut, ambilan iodine radioaktif akan meningkat, mencerminkan adanya penyembuhan kelenjar dan serangan akut.
Tiroiditis subakut biasanya sembuh spontan setelah beberapa minggu atau bulan, kadang-kadang penyakit ini dapat mulai menyembuh dan tiba-tiba memburuk. Kadang-kadang menyangkut pertama-tama satu lobus kelenjar tiroid, baru kemudian lobus satunya. Eksaserbasi sering terjadi ketika kadar T4 telah turun, TSH telah meningkat dan kelenjar mulai berfungsi kembali.
2.      TIROIDITIS KRONIK (Tiroiditis Hashimoto, Tiroiditis Limfositik)
Limfosit disensitasi terhadap antigen dan autoantibody tiroid terbentuk, yang bereaksi dengan antigen-antigen. Tiga autoantibodi tiroid terpenting adalah antibody tiroglobulin (Ab Tg), antibodi tiroid peroksidase (Ab TPD), dahulu disebut antibodi mikrosomal, dan TSH reseptor blocking antibody (TSH-R Ab [blok]). Selama fase awal, Ab Tg meningkat sedikit, kemudian Ab Tg akan menghilang, tapi Ab TPD akan menetap untuk bertahun-tahun. Destruksi kelenjar berakibat turunnya kadar T3 dan T4 serum, dan naiknya TSH. Mula-mula TSH bisa mempertahankan sintesis hormone yang adekuat dengan terjadinya pembesaran tiroid atau goiter, tetapi dalam banyak kasus kelenjar gagal dan terjadilah hipotiroidisme dengan atau tanpa goiter.

E.      MANIFESTASI KLINIS
1.   Tiroiditis Akut
-        Nyeri dan pembengkakan leher anterior, demam, disfagia.
-        Faringitis atau nyeri faring sering timbul.
-        Kehangatan, eritema dan nyeri tekan kelenjar tiroid.
2.   Tiroiditis Subakut
-        Antenia yang nyata
-        Panas, malaise
-        Rasa saklit di leher, dapat meluas ke atas sampai angulus mandibula atau ke daun telinga pada satu atau kedua sisi leher.
-        Tiroid membesar secara simetris.
-        Mulanya penderita bisa mempunyai gejala hipertiroidisme dengan palpitasi, agitasi, dan keringat.
-        Peka rangsang, gelisah, insomnia, dan penurunan berat badan yang merupakan manifestasi hipertiroidisme.
-        Tidak ada oftalmopati.
-        Tanda-tanda klinis toksisitas termasuk takikardi, tremor, dan hiperrefleksia bisa dijumpai.


3.   Tiroiditis Kronik
-        Tiroiditis Hasihimoto biasanya dengan goiter dan pada pasien yang eutiroid atau yang menderita hipotiroidisme ringan
-        Distribusi seksual wanita dibanding pria adalah 4:1.
-        Prosesnya tidak sakit dan penderita bisa tidak sadar akan adanya goiter kecuali bila jadi sangat besar.
-        Pasien lebih tua dapat muncul dengan tiroidisme berat walau kelenjar tiroid yang kecil atrifik lunak.

F.      PENATALAKSANAAN
1.   Tiroiditis Akut
Terapi antibakteri spesifik biasanya menyebabkan penyembuhan, tetapi mungkin diperlukan drainase secara bedah.
2.   Tiroiditis Subakut
o      Pada kasus yang ringan aspirin cukup untuk mengontrol gejala.
o      Pada kasus yang lebih berat, glukokortikoid (prednisone, 20 sampai 40 mg/hari).
o      Prupanolol dapat digunakan untuk mengontrol tirotoksikosis yang berkaitan.
o      Pada kebanyakan kasus, hanya diperlukan terapi simtomatik, contoh : asetraminofen 0,5 gram, 4x sehari.
o      Bila nyeri, panas dan mailase sangat berat sampai menyebabkan penderita tidak bisa apa-apa, terapi obat-obatan anti imflamasi non steroid atau glukokortikoid jangka pendek seperti 20 mg, 3x sehari, selama 7 – 10 hari mungkin diperlukan untuk mengurangi inflamasi.
o      Levotiroksin 0,1 – 0,15 mg sekali sehari, diindikasikan selama fase hipotiroid penyakit agar tidak terjadi eksaserbasi kembali dari penyakit yang dirangsang oleh kadar TSH yang meningkat.
3.   Tiroiditis Kronik (Tiroiditis Hashimoto)
Hipertiroidisme dalam kaitannya dengan tiroiditis hashimoto diobati dengan cara konvensional, terapi-terapi ablasi lebih jarang digunakan karena tiroiditis kronik dan yang berhubuingan cenderung membatasi lamanya hiperfungsi tiroid dan juga memberikan predisposisi pada pasien untuk perkembangan hipertiroidisme setelah pembedahan atau pengobatan radioterapi.

G.     KOMPLIKASI
Komplikasi utama Tiroiditis Hashimoto adalah Hipertiroidisme Progresif. Bila masa tiroid membesar, sementara menerima dosis tirokdsin maksimal yang dapat di toleransi maka dapat dicurigai sebagai kanker tiroid, dan karena hipotiroidisme dapat menimbulkan miksedema.

DAFTAR PUSTAKA

Aside, Ahmad H.2000.Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Jakarta : EGC
Dunphy, Englebert, dkk.1985.Pemeriksaan Fisik Bedah. Yogyakarta : Yayasan Essentia Medika
Greenspan, Francis S.2000.Endokrinologi Dasar dan Klinik Edisi 4. Jakarta : EGC
Isselbacher (etal).2000.Harrison Prinsip-Prinsip ILmu Penyakit Dalam Volume 5 Edisi 13. Jakarta : EGC
Ragg, Mark.1998.Memahami Masalah Tiroid. Jakarta : Arcan




No comments:

Post a Comment

 
 
Blogger Templates