Pages

Ads 468x60px

About

Blogger news

Blogroll

Blogger news

1/20/2013

Faringitis





A.     Pengertian
1.      Faringitis adalah radang pada faring yang biasanya disebabkan oleh bakteri dan virus. (Ngastiyah, 2005)
2.      Faringitis menunjukkan pada semua infeksi akut faring, termasuk tonsilitis dan faringotonsilitis. Ada atau tidak adanya tonsil tidak mempengaruhi kerentanan, frekuensi atau perjalanan atau komplikasi penyakit. (Behrman K, 1999)
3.      Faringitis akut adalah menunjukkan pada keadaan dimana keterlibatan utama adalah pada tenggorokan. (Behrman K, 1999)
4.      Faringitis akut adalah Inflamasi febris tenggorok yang disebabkan oleh organisme virus hampir 70 % dan sebagian lagi oleh bakteri. Streptokokus group A adalah organisme bakteri paling umum yang menyebabkan faringitis akut. (Smeltzer, 2001)
Penyakit faringitis tidak lazim ada pada anak di bawah 1 tahun. Insidennya lalu naik sampai puncaknya pada 4-7 tahun, tetapi berlanjut sampai akhir masa kanak-kanak dan kehidupan dewasa. Tenggorok (termasuk tonsil) adalah sisi anatomis yang terpenting dari faringitis (sakit tenggorok).


B.     Klasifikasi
Secara umum faringitis dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1.      Faringitis Akut
Faringitis virus atau bakterialis akut adalah penyakit yang sangat penting. Beberapa usaha dilakukan pada klasifikasi peradangan akut yang mengenai dinding faring. Yang paling logis untuk mengelompokkan sejumlah infeksi-infeksi ini dibawah judul yang relatif sederhana “Faringitis Akut”. Disini termasuk faringitis akut yang terjadi pada pilek biasa sebagai akibat penyakit infeksi akut seperti eksantema atau influenza dan dari berbagai penyebab yang tidak biasa seperti manifestasi herpesdan sariawan.
2.      Faringitis Kronis
a.       Faringitis Kronis Hiperflasi
Pada faringitis kronis hiperflasi terjadi perubahan mukosa dinding posterior. Tampak mukosa menebal serta hipertofi kelenjar limfe di bawahnya dan di belakang arkus faring posterior (lateral band). Dengan demikian tampak mukosa dinding posterior tidak rata yang disebut granuler.
b.      Faringitis Kronis Atrofi (Faringitis sika)
Faring kronis atrofi sering timbul bersama dengan rinitis atrofi. Pada rinitis atrofi udara pernapasan tidak diatur suhu serta kelembapannya sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi faring.
3.      Faringitis Spesifik
a.       Faringitis Luetika
1)      Stadium Primer
Kelainan pada stadium ini terdapat pada lidah, palatum mole, tonsil, dan dinding faring posterior. Kelainan ini berbentuk bercak keputihan di tempat tersebut.
2)      Stadium Sekunder
Stadium ini jarang ditemukan. Pada stadium ini terdapat pada dinding faring yang menjalar ke arah laring.
3)      Stadium Tersier
Pada stadium ini terdapat guma. Tonsil dan pallatum merupakan tempat predileksi untuk tumuhnya guma. Jarang ditemukan guma di dinding faring posterior.
b.      Faringitis Tuberkulosa
Kuman tahan asam dapat menyerang mukosa palatum mole, tonsil, palatum durum, dasar lidah dan epiglotis. Biasanya infeksi di daerah faring merupakan proses sekunder dari tuberkulosis paru, kecuali bila terjadi infeksi kuman tahan asam jenis bovinum, dapat timbul tuberkulosis faring primer.
Sumber: Adams, 1997; 328 & Iskandar, dkk, 1993;170

C.     Etiologi
1.      Virus
Adenovirus, virus epstein barr, herpes simpleks, virus parainfluenza, enterovirus, v. Sinsitium pernapasan, virus influenza (A & B).
2.      Streptokokus-hemolitikus grup A
Adalah satu-satunya agen penyebab infeksi bakteri yang lazim dan kecuali selama epidemi, infeksi ini mungkin meliputi kurang dari 15 % kasus.
3.      Mikoplasma dan arcanobacterium hemolytieum.
4.      Infeksi gonokokus faring dapat terjadi akibat felasio (hubungan kelamin melalui mulut)
5.      Pneumokokus, Basilus influenza
Sumber: Behrman, 1999; 1458

D.    Patofisiologi
Organisme yang menghasilkan eksudat saja atau perubahan kataral sampai yang menyebabkan edema dan bahkan ulserasi dapat mengakibatkan faringitis. Pada stadium awal, terdapat hiperemia, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring.
Dengan hiperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna putih, kuning atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak adanya tonsilia, perhatian biasanya difokuskan pada faring dan tampak bahwa folikel limfoid atau bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral, menjadi meradang dan membengkak. Tekanan dinding lateral jika tersendiri disebut faringitis lateral. Hal ini tentu saja mungkin terjadi, bahkan adanya tonsilia, hanya faring saja yang terkena.
Sumber: Adams, G.L, 1997: 328

E.     Manifestasi Klinis
1.      Mengeluh rasa kering / gatal pada tenggorok.
2.      Malaise dan sakit kepala
3.      Suhu tubuh meningkat
4.      Nyeri
5.      Disfagia
6.      Suara parau à Proses peradangan menyertai laring
7.      Batuk
8.      Edema Faring
Sumber: Adams, G L, 1997; 328

Berdasarkan besar kecilnya anak makamanifestasi klinis penderita faringitis dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Anak yang lebih kecil
a.       Demam
b.      Malaise umum
c.       Anoreksia
d.      Sakit tenggorok sedang
e.       Sakit kepala
f.        Hiperemia ringan sampai sedang
2.      Anak yang lebih besar
a.       Demam(dapat mencapai 400C)
b.      Sakit kepala
c.       Anoreksia
d.      Disfagia
e.       Nyeri abdomen
f.        Muntah
g.       Faring edema, merah ringan
1)      Hiperemia tonsil dan faring dapat meluas ke palatum lunak dan uvula
2)      Sering menimbulkan eksudat folikuler yang menyebar dan menyatu membentuk pseudomembran pada tonsil
3)      Kelenjar servikal membesar dan nyeri tekan
Sumber: Wong, D, 2003; 458

Berdasarkan penyebabnya, manifestasi klinis faringitis dapat dibagi dua, tetapi ada banyak tanda dan gejala yang tumpang tindih dan sulit dibedakan antara satu bentuk faringitis dengan yang lain.
1.      Faringtis Virus
a.       Tanda awal: Demam, malaise, anoreksia dengan nyeri tenggorokan sedang
b.      Suara parau, batuk dan rinitis
c.       Pada kasus berat dapat terbentuk ulkus kecil pada palatum lunak dan dinding faring posterior.
d.      Eksudat.
2.      Faringitis Steptokokus
a.       Pada anak umur lebih dari 2 tahun: Nyeri kepala, nyeri perut, muntah.
b.      Demam 40oC kadang tidak tampak
c.       Pembesaran tonsil dan tampak eksudat dan eritema faring
d.      Disfagia
e.       Kemerahan difus pada tonsil dan dinding penyangga tonsil dengan bintik-bintik petekie palatum lunak, limfadenitis atau eksudasi folikuler.
Sumber: Behrman, 1999; 1458

F.      Komplikasi
1.      Otitis media purulenta bakterialis
Daerah telinga tengah normalnya adalah steril. Bakteri masuk melalui tube eustacius akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring.
2.      Abses Peritonsiler
Sumber infeksi berasal dari penjalaran faringitis/tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil.
3.      Glomerulus Akut
Infeksi Streptokokus pada daerah faring masuk ke peredaran darah, masuk ke ginjal. Proses autoimun kuman streptokokus yang nefritogen dalam tubuh meimbulkan bahan autoimun yang merusak glomerulus.
4.      Demam Reumatik
Infeksi streptoceal yang awalnya ditandai dengan luka pada tenggorok akan menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada katup-katup jantung, terutama pada katup mitral dan aorta.
5.      Sinusitis
Sinusitis adalah radang sinus yang ada disekitar hidung dapat berupa sinusitis maksilaris / frontalis. Sinusitis maksilaris disebabkan oleh komplikasi peradangan jalan napas bagian atas (salah satunya faringitis), dibantu oleh adanya faktor predisposisi. Penyakit ini dapat disebabkan oleh kuman tunggal dan dapat juga campuran seperti streptokokus, pneumokokus, hemophilus influenza dan kleb siella pneumoniae.
6.      Meningitis
Infeksi bakteri padadaerah faring yang masuk ke peredaran darah, kemudian masuk ke meningen dapat menyebabkan meningitis.Akan tetapi komplikasi meningitis akibat faringitis jarang terjadi.

G.    Penatalaksanaan
1.      Antibiotik golongan penicilin atau sulfanomida
a.       Faringitis streptokokus paling baik diobati peroral dengan penisilin (125-250 mg penisilin V tiga kali sehari selama 10 hari)
b.      Bila alergi penisilin dapat diberikan eritromisin (125 mg/6 jam untuk usia 0-2 tahun dan 250 mg/6 jam untuk usia 2-8 tahun) atau klindamisin.
2.      Tirah Baring
3.      Pemberian cairan yang adekuat
4.      Diit ringan
5.      Obat kumur hangat (Adams, 1997; 330)
Berkumur dengan 3 gelas air hangat. Gelas pertama berupa air hangat sehingga penderita dapat menahan cairan dngan rasa enak. Gelas kedua dan ketiga dapae diberikan air yang lebihhangat. Anjurkan setiap 2 jam.
Obatnya yaitu:
a.       Cairan saline isotonik (½  sendok teh garam dalam 8 oncesair hangat)
b.      Bubuk sodium perbonat (1 sendok teh bubuk dalam 8 ounces air hangat). Hal ini terutama berguna pada infeksi vincent atau penyakit mulut. (1 ounce = 28 g)
6.      Pendidikan Kesehatan (Smeltzer, 2001; 549)
a.       Instruksikan pasien menghindari kontak dengan orang lain sampai demam hilang. Hindari penggunaan alkohol, asap rokok, tembakau dan polutan lain.
b.      Anjurkan pasien banyak minum. Berkumur dengan larutan normal salin dan pelega tenggorokan bila perlu.

H.    Pemeriksaan Penunjang
1.      Pada pemeriksaan dengan mempergunakan spatel lidah, tampak tonsil membengkak, hiperemis, terdapat detritus, berupa bercak (folikel, lakuna, bahkan membran). Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan, terutama pada anak.
2.      Pemeriksaan Biopsi
Contoh jaringan untuk pemeriksaan dapat diperoleh dari saluran pernapasan (sekitar faring) dengan menggunakan teknik endoskopi. Jaringan tersebut akan diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui adanya peradangan akibat bakteri atau virus.
3.      Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum makroskopik, mikroskopik atau bakteriologik penting dalam diagnosis etiologi penyakit. Warna bau dan adanya darah merupakan petunjuk yang berharga.
4.      Pemeriksaan Laboratorium
a.       Sel darah putih (SDP)
Peningkatan komponen sel darah putih dapat menunjukkan adanya infeksi atau inflamasi.
Nilai Normal
Tipe SDP
Dewasa
Anak
(sama dengan dewasa kecuali)
%
ul
Neutrofil
Eosinofil
Basofil
Monosit
Limfosit
50-70
1-3
0,4-1,0
4-6
25-35
2500-7000
100-300
40-100
200-600
1700-3500
Bayi baru lahir: 61%; 1 th:32%


1-     1 sampai 12 th: 4% - 9%
2-     Bayi baru lahir: 34 %; 1 th: 60%;
3-     6 th: 42%; 12 th: 38%
b.      Analisa Gas Darah
Untuk menilai fungsi pernapasan secara adekuat, perlu juga mempelajari hal-hal diluar paru seperti distribusi gas yang diangkut oleh sistem sirkulasi.
Tabel Pengukuran AGD
No
Pengukuran
Simbol
Nilai Normal
1
2
3
4
5
Tekanan Karbon dioksida
Tekanan Oksigen
Prosentase Kejenuhan Oksigen
Konsentrasi ion Hidrogen
Bikarbonat
PaCO2
PaO2
SaO2
pH
HCO­3
35-45 mmHg
80-100 mmHg
97
7,35-7,45
22-26 mEq/L



DAFTAR PUSTAKA


Adams, George L. 1997. Buku Ajar Penyakit THT, ed.6. Jakarta: EGC.
Behrman, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, vol.2, ed.15. Jakarta: EGC.
Iskandar, Nurbaiti, dkk. 1993. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, ed.2. Jakarta: Balai penerbit FKUI..
Jhonson, Marion, dkk. 2000. NOC. Jakarta: Morsby.
Kee, Joyce LeFever. 1997. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dengan Implikasi Keperawatan. Jakarta: EGC.
Mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, ed 3, jilid 1. Jakarta: Media Ausculapius.
MsCloskey, Cjoane, dkk. 1995. NIC. Jakarta: Morsby
NANDA. 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC.


No comments:

Post a Comment

 
 
Blogger Templates